MULTIPLE CASE STUDY: GAMBARAN PENURUNAN HEMODINAMIK PADA PASIEN LANJUT USIA YANG DIBERIKAN GENERAL ANESTESI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGASEM
Keywords:
Aldrete Score, General anestesi, Indeks massa tubuh, Overweight, Waktu pulih sadar, Lanjut Usia, General Anestesi, Hemodinamik, Tekanan Darah, Mean Arterial Pressure, Denyut NadiAbstract
Latar Belakang: Pasien lanjut usia mengalami penurunan fungsi fisiologis yang menurun akibat proses penuaan, sehingga lebih rentan mengalami perubahan hemodinamik selama pemberian general anestesi. Penurunan tekanan darah, mean arterial pressure (MAP), dan denyut nadi dapat meningkatkan risiko gangguan perfusi organ dan komplikasi. Oleh karena itu, pemantauan hemodinamik pada pasien lanjut usia selama tindakan general anestesi penting dilakukan untuk mendukung keselamatan pasien. Tujuan: Menggambarkan penurunan hemodinamik (tekanan darah, MAP, dan denyut nadi) pada pasien lanjut usia yang diberikan general anestesi di RSUD Karangasem. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan multiple case study pada 5 partisipan lanjut usia (≥60 tahun) yang menjalani pembedahan dengan general anestesi, dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen berupa lembar wawancara AMPLE dan lembar observasi hemodinamik. Analisis data menggunakan single case analysis dan cross case analysis. Hasil: Empat partisipan mengalami penurunan tekanan darah, MAP, dan denyut nadi sekitar 20% dari nilai baseline pada menit ke-5 hingga ke-15 pascainduksi. Sementara itu, partisipan 5 mengalami penurunan tekanan darah, MAP, dan denyut nadi yang lebih besar, dengan nilai MAP terendah mencapai 59 mmHg (turun 26% dari baseline). Dua partisipan mengalami MAP di bawah batas aman 70 mmHg, dan partisipan 5 memerlukan pemberian ephedrine akibat penurunan hemodinamik yang berat.
Kesimpulan: Seluruh partisipan mengalami penurunan hemodinamik signifikan pascainduksi, dengan variasi pemulihan dipengaruhi komorbiditas, jenis kelamin, dan teknik anestesi, sehingga pemantauan ketat serta kesiapan intervensi farmakologis pada fase induksi menjadi penting dalam asuhan anestesi.






